Urgensi Pendidikan Pancasila

https://mohyamin.wordpress.com/2015/10/03/urgensi-pendidikan-pancasila/

Negeri ini bukan milik segelintir orang saja, namun seluruh anak negeri di republik ini yang memiliki agama berbeda, keyakinan berlainan, dan begitu seterusnya. Kekerasan apapun yang kemudian mengatasnamakan kelompok tertentu selanjutnya merupakan sebuah kesalahan besar dan tidak menunjukkan bangsa yang beradab. Catatan Setara Institute for Democracy and Peace sepanjang periode tahun 2007-2014 menyebutkan ada 1.680 peristiwa dengan 2.268 tindakan pelanggaran. Rata-rata setiap tahunnya terjadi 210 peristiwa dengan 283 tindakan. Selanjutnya menurut Komnas Perempuan, terdapat 365 kebijakan diskrimantif atas dasar agama dan dalil-dalil keagamaan misoginis. Hal tersebut tentunya bertentangan dengan hak asasi manusia. Dari 365 kebijakan tersebut, terdapat 279 kebijakan yang menyasar pada perempuan. Sedangkan yang mendiskrimnasi kelompok agama atau kepercayaan terdapat 40 kebijakan. Ini merupakan kondisi ironis.

Ketika insiden kekerasan agama ini kemudian dikorelasikan dengan keberadaan bangsa Indonesia yang dibangun dari pelbagai agama, maka tindakan kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama tertentu sudah sangat jelas menodai nilai-nilai kebhinnekaan tunggal ika. Bhinneka tunggal ika sebagai bagian ajaran dari Pancasila telah dirusak dan dihancurkan. Padahal kita semua sudah sepakat mengatakan bahwa Pancasila adalah harga mati. Dengan kata lain, Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa tercinta bukan semata lahir tanpa ada sebuah sejarah panjang sebelumnya. Ia justru lahir atas nama kepentingan bangsa di atas segala-galanya. Dalam Pancasila sudah termuat segala keragaman kehidupan berbangsa baik budaya, suku, agama, pemikiran dan lain seterusnya. Dijadikannya Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa bukanlah sebuah keputusan sepihak dari sejumlah kelompok tertentu, namun melibatkan banyak pihak yang mewakili seluruh elemen bangsa dari Sabang sampai Merauke. Pancasila berbicara atas nama seluruh rakyat Indonesia. Yang diamanatkan dalam Pancasila untuk kemudian ditunaikan dalam kehidupan berbangsa adalah mampu menjalin(kan) kehidupan dan hidup yang harmonis dan damai. Semangat hidup untuk mampu menghargai perbedaan apa pun merupakan sebuah hal niscaya untuk ditegakkan dengan sedemikian rupa.

Semangat untuk hidup berdampingan walau berbeda pandangan dan pemikiran merupakan sebuah keniscyaan untuk ditunjukkan dengan sedemikian rupa. Pancasila mencerminkan realitas-realitas plural yang terjadi dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat di republik tercinta ini. Pancasila tidak pernah mengajarkan setiap warga negara Indonesia untuk mempertahankan ego sektoral masing-masing dengan lebih mengedepankan chauvinisme dan kepentingan-kepentingan kerdil lainnya. Pancasila menjadi payung bagi semua dan sesama agar bisa mendendangkan semangat untuk bersatu dan bersama dalam mencapai kehidupan dan hidup harmonis di tengah perbedaan dan keberbedaan. Persoalan selanjutnya adalah realitas kekinian secara telanjang bulat menunjukkan bahwa gerakan-gerakan fundamentalisme yang mengatasnamakan agama tertentu kemudian memberikan sebuah justifikasi bahwa Pancasila sudah tidak layak menjadi falsafah hidup bangsa di republik tercinta ini. Konon, begitu banyaknya persoalan baik korupsi, mafia hukum dan lain seterusnya menghantam bangsa ini karena Pancasila tetap dipertahankan sebagai pandangan hidup.

Dalam pandangan agama fundamentalisme, Pancasila dipandang sudah semakin menjauhkan masyarakat dalam melakoni kehidupan yang beradab. Pancasila menjadi candu dan racun bagi kerusakan yang terjadi di bumi Indonesia. Hal tersebut kemudian merupakan sebuah pandangan yang sesat, menyesatkan dan salah. Padahal para pendiri bangsa ini tidak pernah gegabah dalam merumuskan sebuah falsafah hidup bangsa. Mereka sebelumnya sudah melakukan perenungan diri secara mendalam, diikuti dengan diskusi-diskusi multi-perspekif dan kemudian melahirkan Pancasila. Akan tetapi pertanyaannya adalah benarkah yang diklaim kelompok gerakan agama beraliran keras tersebut? Terlepas apa pun jawabannya, ini sudah menjadi titik rawan bagi keberlanjutan hidup berbangsa ke depannya. Membiarkan gerakan agama tertentu melakukan perongrongan atas keberadaan Pancasila sebagai dasar bernegara dan berbangsa akan semakin menjadikan kelompok gerakan tersebut bertambah binal, liar dan menjadi-jadi. Ia akan semakin leluasa bergerak, menciptakan ketakutan, kegelisahan dan ketidakamanan bagi kehidupan masyarakat.

Kita tidak mungkin hanya bekerja secara parsial dengan semata melawan kampanye kebenaran tunggal dari organisasi-organisasi gerakan agama tersebut supaya ajaran dan pandangan yang ingin mengotori pikiran anak bangsa bisa segera dibumi-hanguskan, namun sesungguhnya yang terpenting dari hal tersebut adalah menghidupkan kembali wawasan Pancasila di dunia pendidikan baik di sekolah maupun perguruan tinggi. Bila selama ini pendidikan Pancasila hanya sebatas mata pelajaran “pinggiran”, maka hal tersebut harus kembali dipertajam peran dan tujuannya. Namun gerakan menghidupkan kembali Pancasila janganlah bersifat reaksioner yang hanya bermuara untuk membendung gerakan-gerakan keagamaan ekstrim tertentu sebab hal tersebut tidak akan membekas dan melekat dalam kehidupan sehari-hari generasi bangsa. Menghidupkan Pancasila harus dimaknai sebagai upaya revitalisasi nilai-nilai agar bisa sebangun dengan kebutuhan bangsa di masa depan. Praktik-praktik pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi harus mendorong sebuah kehidupan yang berlandaskan Pancasila, bukan semata teori belaka

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: